Maestro Musik dan Pejuang NU, Budi Jolong Tutup Usia


Maestro Musik dan Pejuang NU, Budi Jolong Tutup Usia

Jejak seni, dakwah, dan pelurusan sejarah yang takkan padam

KULON PROGO, Kalurahanku— Kabar duka menyelimuti jagat seni dan keagamaan tanah air. M. Mashudi, tokoh seni sekaligus pejuang Nahdlatul Ulama yang lebih dikenal dengan nama Budi Jolong, telah berpulang ke Rahmatullah pada Kamis dini hari, 12 Juni 2025, pukul 00.45 WIB di RSUD Wates. Beliau wafat setelah beberapa hari sebelumnya mengalami penurunan kondisi kesehatan. Suasana haru dan doa mengiringi prosesi pemakaman yang berlangsung pada pukul 13.00 WIB di kampung halamannya, Dusun Terbah, Kalurahan Pengasih, Kulon Progo.


Maestro Musik Era 90-an

Budi Jolong adalah sosok yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa, terutama di era 1990-an, sebagai maestro musik dan seniman multi-talent. Namanya mulai melejit lewat karya-karya musik pop daerah yang khas, jenaka, dan sarat nilai budaya. Di antara karya paling ikoniknya adalah lagu “Wes Ewes Ewes”, yang pada masanya menjadi lagu wajib di berbagai panggung hiburan, radio lokal, dan kaset-kaset rakyat.

Namun di balik sisi jenaka karyanya, Budi Jolong adalah pencipta musik yang sangat serius. Ia dikenal piawai merangkai lirik berbahasa Jawa yang sarat makna, serta mahir mengemas irama sederhana menjadi penuh daya tarik. Musiknya hidup, berjiwa, dan menyuarakan realitas masyarakat.


Pengabdi Umat dan Pejuang Spiritualitas

Tak hanya berkarya dalam dunia seni, Budi Jolong juga merupakan tokoh keagamaan yang aktif berdakwah melalui jalur budaya. Ia menulis dan menggubah banyak lagu religi, khususnya qasidah dan lagu-lagu dakwah, yang sebagian besar dibawakan oleh penyanyi religi kondang Wafiq Azizah. Melalui lagu-lagu tersebut, ia menyampaikan pesan-pesan moral, cinta Rasulullah, dan semangat ukhuwah Islamiyah.

Setelah kembali dari Jakarta dan memasuki masa pensiun, beliau memilih untuk kembali mengabdi di tanah kelahiran. Ia aktif membina masyarakat dalam berbagai forum keagamaan dan budaya. Peran penting beliau semakin terasa saat dipercaya menjadi bagian dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kulon Progo, lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang fokus pada dakwah kultural dan pelestarian tradisi Islam Nusantara.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai praktisi rukyah syar’iyyah di bawah Jam’iyyah Rukyah Aswaja (JRA). Dalam keseharian, beliau sering dimintai pertolongan oleh warga untuk membantu penyembuhan ruhani dan gangguan batin, selalu dengan pendekatan santun, ilmiah, dan sesuai syariat.


Pelurus Sejarah dan Penjaga Nasab

Salah satu aspek perjuangan Budi Jolong yang tidak jarang diketahui publik luas adalah dedikasinya dalam pelurusan sejarah. Beliau aktif dalam barisan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS), sebuah gerakan yang konsisten mengawal narasi sejarah Islam agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik atau kultus personal. Dalam konteks ini, Budi Jolong dikenal tegas menolak pemalsuan nasab Rasulullah SAW, dan berani menyuarakan kebenaran meski harus menempuh jalan sunyi dan penuh tantangan.


Sosok Sederhana, Tegas, dan Berjiwa Luhur

Bagi sahabat dan para muridnya, Budi Jolong adalah pribadi yang rendah hati, bersahaja, namun memiliki pendirian kuat dan jiwa perjuangan yang tak pernah padam. Ia bukan hanya seniman dan da’i, tapi juga guru kehidupan yang mengajarkan makna keikhlasan dalam pengabdian. Rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar, berkonsultasi, atau sekadar berbagi cerita.

Selama hidupnya, beliau tidak mengejar popularitas. Ia justru lebih senang berada di balik layar, menggerakkan roda budaya dan keagamaan dari akar rumput. Namun justru dari situlah, pengaruhnya terasa luas dan dalam. Banyak generasi muda yang kini terinspirasi untuk melanjutkan jejak perjuangannya—baik di bidang seni, dakwah, maupun sejarah.


Selamat Jalan, Guru dan Maestro Kami

Kepergian Budi Jolong adalah kehilangan besar bagi keluarga, masyarakat Kulon Progo, dan dunia seni-budaya Islam secara umum. Namun warisan beliau tak akan pernah mati. Lagu-lagunya akan tetap dinyanyikan. Nilai-nilai yang beliau perjuangkan akan terus dijaga dan diwariskan.


Selamat jalan, Maestro.

Engkau telah menulis bait-bait kehidupanmu dengan nada perjuangan dan irama keikhlasan.Suaramu takkan hilang, karena telah menyatu dalam ruh umat dan bumi yang kau cintai. Semoga Allah SWT menerima segala amal baikmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di sisi para kekasih-Nya.

Komentar