Salah Sasaran yang Mematikan: Gugurnya Ondomoi dalam Babad Kedung Kebo (Sinom XXXVIII Nomor 17–18)
Babad Kedung Kebo karya R.A.A. Tjokronegoro I, Bupati Perdana Purworejo, merupakan salah satu sumber penting yang merekam dinamika sejarah lokal Jawa pada masa pergolakan besar, khususnya dalam konteks Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Di dalamnya, Sinom XXXVIII nomor 17–18 menghadirkan sebuah fragmen peristiwa yang singkat namun sarat makna, menggambarkan kekacauan perang, kekeliruan sasaran, dan gugurnya seorang prajurit bernama Ondomoi.
Dalam bait ke-17 diceritakan bahwa suara dan pergerakan datang dari arah sebrang timur. Kelompok kraman, yakni para pemberontak atau pengikut Pangeran Diponegoro, tampak berlarian dalam keadaan terdesak. Mereka tidak lagi bergerak dalam barisan yang teratur, melainkan tercerai-berai, jatuh bangun, dan diliputi kepanikan. Gambaran ini menunjukkan bahwa situasi di medan pertempuran telah berbalik arah, di mana kekuatan perlawanan berada dalam posisi yang lemah dan tertekan.
Di tengah kekacauan tersebut, hanya satu orang yang masih terlihat membawa bendera. Bendera ini memiliki arti penting sebagai lambang komando, kehormatan, dan semangat juang. Namun, pembawa bendera itu menjadi sasaran tembakan dan gugur seketika. Tubuhnya hancur terkena peluru, dan bersamaan dengan itu, simbol perlawanan pun runtuh. Bendera tersebut disebut sebagai milik Ki Tumenggung Suradirja, tokoh yang namanya tercatat dalam babad sebagai bagian dari peristiwa tragis ini.
Peristiwa berlanjut pada bait ke-18, ketika bunyi tembakan terdengar untuk kedua kalinya. Peluru kali ini mengenai kayu pelen, kemungkinan sebuah pohon atau benda keras di sekitar lokasi kejadian. Akan tetapi, tembakan tersebut tidak berhenti pada sasaran awal. Peluru memantul dan berbalik arah, sebuah kejadian yang mencerminkan betapa tidak terduga dan berbahayanya situasi perang.
Akibat pantulan peluru itu, seorang priyayi bernama Ondomoi justru menjadi korban. Ia terkena tembakan di bagian kepala, tepat pada satu sisi, yang menyebabkan kematian seketika. Ondomoi bukan sasaran utama, tetapi gugur karena salah sasaran yang mematikan. Kematian Ondomoi menegaskan bahwa dalam situasi perang, nasib seseorang sering kali ditentukan oleh kekacauan dan ketidaksengajaan, bukan semata oleh perhitungan strategi.
Setelah peristiwa tersebut, Babad Kedung Kebo menyebut Kyai Adipati Tjokrajaya, yang juga dikenal sebagai Tjokronegoro atau Tjokrodjoyo, yang melanjutkan perjalanannya. Penyebutan ini memberi kesan bahwa meskipun tragedi dan korban jiwa terjadi, perjalanan kekuasaan dan pemerintahan tetap berjalan. Sejarah tidak berhenti oleh satu peristiwa, tetapi terus bergerak dengan membawa jejak luka dan kehilangan.
Melalui Sinom XXXVIII nomor 17–18, Babad Kedung Kebo tidak hanya mencatat rentetan kejadian fisik, tetapi juga menghadirkan potret manusia yang rapuh dalam pusaran konflik besar. Gugurnya Ondomoi menjadi simbol betapa perang selalu melahirkan korban, sering kali bukan karena kesalahan pribadi, melainkan karena kekacauan dan salah sasaran yang tak terelakkan dalam lintasan sejarah.

Komentar
Posting Komentar